Minggu, 20 Oktober 2019

BERZAKAT UNTUK KEMAJUAN PENDIDIKAN UMAT



Berzakat merupakan salah satu rukun Islam sebagai aktualisasi ketaqwaan seorang muslim agar bisa disebut sebagai Islam sejati. Ikhlas mengeluarkan zakat tidak hanya dihitung mendapat pahala dari Allah SWT, akan tetapi secara horizontal menggambarkan seberapa besar hubungan sosial seseorang di lingkungan masyarakatnya. Penilaian tersebut bisa diterjemahkan secara umum seperti pendapat Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq : 5 mengungkapkan bahwa dinamakan zakat karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan. Hal ini bisa disimpulkan betapa pentingnya seseorang apabila dalam keadaan mampu secara ekonomi, keberadannya akan membawamanfaat bagi masyarakat disekitarnya.

Memiliki penduduk muslim terbesar di dunia, di Indonesia potensi zakat baik penerimaan maupun pengeluarannya cukup besar sehingga, menurut ajaran Islam pemungutan zakat harus dilakukan oleh negara. Nabi Muhamad SAW selama menjadi kepala negara Madinah memungut zakat dari orang – orang yang dinilai mampu. Beliau memerintahkan pemungutan ini kepada para sahabat yang bertugas sebagai gubernur di wilayah masing – masing. Komitmen pemerintah melalui Badan Amil Zakat Nasional atau BAZNAS ditunjukkan dengan  keseriusannya melakukan pengelolaan zakat sejalan dengan visi “Menjadi Pengelola Zakat Terbaik dan Terpercaya di Dunia”. Hal ini berkaitan dengan iklim masyarakat yang semakin intens memiliki kesadaran tinggi untuk mau berzakat. Dengan menerapkan sistem manajemen transparan dan akuntabel BAZNAS mampu melakukan pembinaan, mengembangkan serta memberikan layanan terbaik bagi muzaki (orang yang berzakat) maupun mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Implementasi sistem online berbasis teknologi informasi dan komunikasi mampu mengoptimalkan program ZIS (zakat, infak dan sodaqoh) yang dihimpun dari kementerian, lembaga, instansi pemerintah, BUMN, BUMD, perusahaan swasta dan masyarakat.

Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam atau Bimas Islam Kementerian Agama Republik Indonesia mengapresiasi kerjasama yang dibangun BAZNAS untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat nasional agar bisa menjangkau dan dirasakan masyarakat bawah.  Bentuk apersiasi tersebut dilakukan dengan aktif mendorong seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun pegawai di bawah lingkup Kementerian Agama untuk berkontribusi besar dalam menyebarkan virus berzakat. Tidak hanya dalam rangka beribadah saja tetapi lebih dari itu yaitu untuk kemaslahatan bersama.

Dewasa ini penyaluran zakat tidak hanya fokus untuk membantu fakir miskin, yatim piatu dalam konteks meringankan beban kebutuhan hidup sehari – hari. Akan tetapi zakat telah mampu berperan dalam penyelesaian berbagai masalah di beberapa bidang lain seperti ekonomi, kesehatan, dan termasuk bidang pendidikan. Memang dalam surat at – Taubah ayat 60 sudah dijelaskan dengan tegas aturan tentang siapa yang berhak menerima dana zakat yang berbunyi :


Artinya    :“Sesungguhnya zakat – zakat itu hanyalah untuk orang – orang fakir, orang – orang miskin, pengurus – pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang – orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana “ (QS. At – Taubah (9):60)

Penggunaan zakat untuk pendidikan dalam hal ini pembangunan sekolah maupun lembaga – lembaga pendidikan lain menimbulkan banyak perbedaan dan kritik berbagai ulama’. Sebagian ulama kontemporer mencoba untuk menafsirkan dan meluaskan cakupan fi sabilillah pada ayat tersebut.  Seperti pendapat Dr. Yusuf al – Qadarawi menyebutkan dalam Fiqhus – Zakat menyebutkan bahwa lembaga dakwah atau Islamic Center di sebuah negeri dengan muslim minoritas sangat layak untuk mendapatkan dana zakat ini, karena pada substansinya yang dilakukan sebuah lembaga dakwah  yaitu untuk menegakkan dan memperjuangkan agama Islam.

Menyikapi perbedaan penafsiran tersebut tentunya BAZNAS sebagai lembaga resmi pemerintah memiliki dasar hukum kuat mengenai sistem penyaluran dana zakat. BAZNAS menginisiasi program Zakat Community Development (ZCD) yaitu program pemberdayaan melalui komunitas dan desa dengan mengintegrasikan aspek dakwah, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kemanusiaan secara komprehensif. Tujuan dan manfaat dari program ini sangat jelas yaitu meningkatkan angka partisipasi wajib belajar masyarakat sehingga mengurangi jumlah buta aksara dan buta Al – Qur’an serta terpenuhinya wajib belajar dua belas tahun.

Dunia pendidikan di Indonesia masih menyisakan berbagai permasalahan yang harus diselesaikan bersama – sama. Buta huruf, angka putus sekolah, belum bisa diberantas menyeluruh di semua wilayah Indonesia. Dana dari pengelolaan zakat tersebut bisa dialokasikan untuk pelaksanaan pendampingan atau edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pendidikan. Selanjutnya diberikan penguatan secara financial atau keuangan keluarga supaya lebih layak. Bantuan biaya pendidikan sekolah, pemberian beasiswa anak berprestasi dari keluarga kurang mampu, akan mendorong mereka memiliki semangat lebih melanjutkan pendidikan setinggi - tingginya. Secara otomatis jika memiliki tingkat pendidikan cukup, seseorang akan memiliki pola berpikir berbeda. Lebih care dan memiliki pengetahuan minimal mengenai kesehatan pribadi. Lebih luas kesadaran tersebut meningkat di level lingkup masyarakat. Pendidikan seseorang juga menjadi salah satu solusi merubah pengelolaan perekonomian keluarga lebih baik.

Program pemberdayaan yang langsung menyentuh masyarakat bawah di pedesaan atau komunitas tertentu di wilayah terpencil adalah bentuk kontribusi nyata. Pemerintah melalui Ditjen Bimas Islam Kemenag RI sebagai regulator, pembina dan pengawas pengelolaan zakat nasional serta BAZNAS sebagai operator, koordinator pengelola zakat secara berkala melakukan bimbingan kepada masyarakat melalui sosialisai atau dakwah. Bagaimana membantu pemerintah menyelesaikan berbagai permasalahan kompleks mulai ekonomi, sosial, kesehatan maupun pendidikan yang membutuhkan kontribusi nyata dari warga negara dimana salah satunya adalah melalui aktifitas membayar zakat. Untuk mendapatkan informasi yang cukup, masyarakat bisa mengakses http://www.bimasislam.kemenag.go.id Salah satunya masyarakat bisa berkonsultasi secara online jika ada permasalahan yang dialami dalam hubungan hidup bermasyakat. Dengan literasi zakat dan wakaf  https://literasizakatwakaf.com setidaknya bisa membuka wawasan, pemikiran mengenai pentingnya kebersamaan untuk memajukan pendidikan umat dan membangun bangsa melalui gerakan zakat.
#LiterasiZakatWakaf
#LiterasiLiterasiZakatWakaf2019

Rabu, 16 Oktober 2019

Traveloka Xperience : Budget Minim, Liburan Tetap Seru




Hampir sebulan lamanya saya dan keluarga kecil memiliki rencana menikmati masa liburan sekolah ke tempat wisata untuk beberapa hari. Setelah berdebat lama dan pastinya menyesuaikan budget alias isi kantong..he..he..dan taraaaaa akhirnya kita kompak sepakat untuk memilih liburan ke Jakarta. Alasannya selain karena isteri sama anak belum pernah kesana, dari kota tempat tinggal saya akses ke ibu kota negeri tercinta ini masih relatif mudah. Kota Trenggalek berada di pesisir Selatan Jawa Timur berbatasan langsung dengan Pacitan dan Tulungagung. Kalau melalui perjalanan darat kita harus menempuh jarak lebih dari tujuh ratus kilometer selama sepuluh jam dalam waktu normal. Tanggal berangkat sudah deal, kita sempat bingung sih memilih transportasi yang mau kita gunakan. Alhamdulillah, kita sudah kenal Traveloka sejak dulu bisa diakses kapanpun dimanapun. Melakukan pemesanan tiket kereta api melalui Traveloka mudah banget, cepet dan enggak bikin ribet.

Karena budget minim jadi ya harus pinter milih alat transportasi yang nyaman dengan harga paling miring. Di Traveloka anda bisa mencari segala informasi mengenai harga tiket pesawat, bus maupun kereta api baik lokal maupun antar kota. Cukup gunakan smartphone, buka aplikasi traveloka, tinggal klik – klik pilih alat tranportasi yang diinginkan, apalagi fitur – fitur di traveloka menarik dan mudah banget.

     
Para pengguna setia Traveloka, ada kabar terbaru bagi penggila traveling maupun aktivitas lainnya. Beberapa waktu lalu Traveloka telah meluncurkan fitur baru yang membantu anda untuk mencari petualangan seru seperti nonton bioskop, atraksi, event, hiburan, layanan spa dan kecantikan, olahraga, taman bermain, transportasi lokal, tur, pelengkap travel, makanan minuman, serta kursus maupun workshop. Semuanya bisa anda dapatkan cukup dengan satu kemudahan yaitu Traveloka Xperience








Ada beberapa keunggulan yang  harus anda tahu kenapa menggunakan layanan Traveloka Xperience :

Pertama : Ragam Produk Kekinian
Traveloka Xperience menyediakan dua belas ragam produk yang memadukan travelling dengan gaya hidup. Traveloka menyadari bahwa kebutuhan akan gaya hidup mengalami peningkatan berkaitan dengan rekreasi dan budaya. Layanan mulai dari konser musik, jadwal pertunjukan dan harga tiket sangat kompetitif.  

Kedua : Tak Perlu Antre

Biasanya sih warga +62 males banget  beli  di loket karena harus mengantre tiket.  Dengan memakai aplikasi Traveloka yang ada di smartphone waktu memesan tiket atau bocking, anda tidak perlu lagi berdesak – desakan di tempat antre karena semua yang menjadi mitra Traveloka sudah terintegrasi oleh sistem pemesanan secara online. Layanan Easy Access tidak hanya mempermudah pengguna memasuki area wisata atau aktivitas, tetapi juga membantu mitra pengelola tempat wisata untuk mengadopsi teknologi baru yang bisa meningkatkan dalam hal pelayanan.




Ketiga :  Mudah Cara Pembayaran

Saat ini Traveloka telah memiliki empat puluh metode pembayaran yang dapat anda gunakan ketika melakukan transaksi. Tujuannya memberikan kemudahan secara optimal para penggunanya. Nikmati layanan Traveloka Pay Later yang menawarkan layanan pinjaman online untuk berbagai produk Traveloka seperti transportasi, akomodasi, serta aktivitas maupun rekreasi. Pendaftaran dan persyaratannyapun sangat mudah sehingga produk ini bisa anda gunakan untuk mewujudkan impian  keluarga berlibur  yang telah lama tertunda.


Keempat :  Rekomendasi Tempat Liburan Paling Seru

Kehadiran fitur Traveloka Xperience digadang – gadang mampu menjawab kebutuhan travel dan lifestyle pengguna atau konsumen. Merasakan beragam pengalaman seru saat liburan atau melakukan aktfitas sehari – hari. Memungkinkan mereka mendapat pengalama yang lebih dari sekedar bepergian saja, yakti sebuah pengalaman unik dan tak terbatas. #XperienceSeru menjadi tagline Traveloka Xperience merekomendasikan lokasi liburan lokal super keren yang dimiliki semua provinsi di Indonesia. Siapa yang nggak ingin menikmati budaya klasik ala Jogjakarta, mengunjungi indahnya pulau dewata Bali, Labuan Bajo, Lombok dan tempat – tempat kece lainnya. Suka nge trip atau beraktivitas apapun ke mancanegara, Traveloka Xperience hadir memberi kemudahan bagi anda jika ingin melakukan perjalanan ke negara – negara Asia Tenggara seperti Thailand, Philipina, atau Singapura, Korea, Jepang atau China, bahkan sampai ke Eropa. 









Layanan Traveloka Xperience #XperienceSeru kami rasakan sangat membantu perjalanan liburan kami.  Si kecil Aeya, anak semata wayang saya antusias banget mencoba masuk ke Taman Legenda Keong Mas di Taman Mini Indonesia Indah. Berawal dari keseringan browsing binatang purba Dinosaurus, Aeya ingin merasakan petualangan yang ditawarkan disini. Saya segera membuka aplikasi Traveloka Xperience di handphone untuk 
mengecek harga tiket masuk ke Taman Legenda, dan bisa sekalian memesan tiket masuk beberapa wahana. Jadi ongkos liburan seru nan kece tetap bisa disesuaikan dengan budget atau isi kantong. He...he...

Berjalan menyusuri tempat mirip hutan layaknya habitat spesies hewan purba begitu menyenangkan, apalagi patung – patung raksasa berbagai jenis dino saurus tersebut bisa bergerak dan mengeluarkan suara seperti nyata. Selain petualangan dinosaurus, di taman Legenda Keong Mas menawarkan beberapa wahana seru lain seperti kereta ulat selur, mata legenda berupa kincir raksasa, nirwana kisar, kolam renang anak tirta, kapal bajak laut, beos, mobil tanjak dan baby dino. Di Taman Legenda Keong Mas sudah dilengkapi berbagai fasilitas seperti bale bengong, cafe barong, pendopo melati, toilet, area gathering dan musholla. Ayo nikmati liburan #XperienceSeru anda bersama keluarga tercinta dengan Traveloka Xperience


Traveloka Dulu, #XperienceSeru kemudian

#TravelokaBlogContest2019

Senin, 30 September 2019

BuLiKe : NYALAKAN ASA LITERASI ANAK - ANAK DESA PINGGIRAN


Saya mendapati banyak pengalaman menarik ketika mulai mendapat tugas mengajar salah satu sekolah dasar (SD) di kecamatan Dongko bulan April lalu, jaraknya empat puluh kilometer dari pusat kabupaten Trenggalek JawaTimur. Dari keseluruhan siswa di sekolah kami, delapan puluh lima persen berasal dari tiga dusun yakni dusun Weru, dusun Tlogo, dan dusun Plapar yang berada di balik bukit. Jika kondisi jalan dan cuaca sedang baik tak sampai lima belas menit untuk sampai di sekolah. Biasanya mereka diantar oleh orang tua dengan mengendarai motor. Perlu diketahui kecamatan Dongko seluruh wilayahnya berupa pegunungan dengan tingkat kemiringan tanah yang beragam. Jadi kondisi sosial, ekonomi, dan budaya sangat berbeda dengan masyarakat kota pada umumnya. Secara otomatis hal tersebut sangat mempengaruhi pola asuh dan pendidikan keluarga. Berbekal informasi dari anak – anak, saya semakin yakin bahwa budaya gerakan literasi harus segera dimulai, terutama mulai dari keluarga mereka.

Keluarga merupakan lingkungan terkecil bagi anak mengenal segala hal yang mereka lihat di dunia pertama kali. Disini mereka belajar memahami alam raya beserta isinya berkat perhatian besar dan arahan orang tua. Harmoni keluarga membentuk karakter pribadi seorang anak untuk diimplementasikan pada masa depan kehidupannya kelak. Dukungan besar budaya dalam keluarga menjadi pondasi tegaknya sikap dan tingkah laku. Maka tidak heran jika Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang menjadi program pemerintah juga turut melibatkan peran keluarga. Budaya Literasi Keluarga (BuLiKe) seharusya sudah menjadi “ruh” para keluarga di Indonesia menghadapi tantangan global yang menuntut setiap individu untuk mampu melakukan analisa dalam berbagai hal. Apalagi Indonesia masih tercatat berada di peringkat paling bawah terkait budaya literasi pada Program for International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OEDC).

Membangun budaya literasi sebuah keluarga pada lingkup masyarakat pinggiran tak semudah membalikkan telapak tangan. Kepentingan mencari kebutuhan ekonomi demi dapur terus mengepul menjadi hal utama dan pertama yang harus diperjuangkan lebih dulu. Bisa disimpulkan bahwa kesempatan orang tua untuk mendampingi anak – anaknya pasti berkurang jika dibandingkan keluarga dengan tingkat ekonomi sudah mapan. Membayar biaya sekolah pun, mereka para orang tua harus memutar otak, apalagi bisa menyediakan fasilitas bahan bacaan pendukung literasi di rumah. Rendahnya tingkat pendidikan orang tua menambah betapa sulitnya seseorang memiliki motivasi bagaimana memutus rantai ketertinggalan budaya baca tulis. Fasilitas gadget atau smartphone dianggap sebagai solusi terakhir bagi orang tua untuk menggantikan ketidakhadirannya pada aktifitas anak – anak. Minimnya pengetahuan orang tua mengenai literasi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Perlu adanya pendampingan, motivasi yang memiliki satu tujuan menumbuhkan budaya literasi baik dari lingkungan masyarakat maupun lembaga sekolah terdekat. Lembaga sekolah, bisa di katakan sebagai satu – satunya harapan bagi masyarakat seperti ini untuk mendapatkan pelayanan, kemudahan akses informasi mengenai literasi. Warga sekolah maupun wali murid bisa memanfaatkan buku – buku perpustakaan sekolah sebagai sumber pengetahuan. Edukasi yang berkelanjutan kepada keluarga siswa penting dilakukan supaya budaya literasi terbangun sejak dini.

Perlu diketahui literasi tidak hanya terletak pada kemampuan seseorang dalam hal membaca dan menulis saja. Akan tetapi merupakan kemampuan individu dalam menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Kemampuan literasi dapat meningkatkan kualitas hidup individu, keluarga maupun masyarakat. Karena mampu memberikan efek yang sangat luas, maka kemampuan berliterasi secara tidak langsung berdampak bisa memberantas kemiskinan, mempengaruhi pertumbuhan penduduk, pembangunan yang berkelanjutan dan mewujudkan situasi perdamaian di sebuah negara.  Beberapa ahli mengatakan aktifitas membaca menulis hanya sebagian kecil saja dari literasi. Orang tua mengajarkan, memperkenalkan kearifan lokal budaya kepada anak – anak bisa juga disebut sebagai literasi budaya. Seiring perkembangan jaman, maka kemudian dikenal istilah – istilah baru mengenai literasi yaitu literasi digital (digital literacy), literasi kewarganegaraan, literasi sains, literasi sekolah, literasi keluarga dan lain sebagainya.

Orang tua harus berusaha meluangkan waktu meleburkan diri dengan aktifitas anak – anak seperti membaca, mendongeng, atau berdiskusi bersama. Jika memerlukan bahan dan artikel kreatif bisa mengakses laman https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/ yang memuat banyak informasi mengenai pendidikan keluarga.  Waktu akhir pekan ajaklah mereka untuk menghabiskan waktu ke museum atau taman bermain berkonsep edukatif. Biarkan anak – anak terus menerbangkan imajinasi supaya dunianya penuh dengan warna. Ayah ibu menjadi teladan atau cermin menceriakan rumah dengan budaya literasi. Yakinlah bahwa tingkat melek huruf (kemampuan baca – tulis) akan berpengaruh pada kemampuan berkomunikasi seseorang. Kemampuan ini akan membuka keran pengetahuan sehingga lahir generasi – generasi muda terdidik yang memiliki berbagai potensi unik. Orang  berpendidikan tidak mengalami kesulitan menyelesaikan tugas – tugas pekerjaan, memiliki loyalitas tinggi, serta berkarakter mampu menganalisis permasalahan dengan konsep terstruktur. Mulai dari lingkungan keluarga lah anak – anak harus memiliki jutaan mimpi, banyak keingintahuan, semangat pantang menyerah. Budaya Literasi Keluarga (BuLiKe) bisa menjadi solusi sebagai penguat karakter anak di tengah situasi kritis merosotnya  moral bangsa.

#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga

Sabtu, 14 September 2019

KEARIFAN LOKAL, USAHA MENJAGA ALAM WARISAN LELUHUR


Kearifan lokal atau local wisdom merupakan suatu nilai yang dianggap baik dan benar, berlangsung secara turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat tertentu sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Ratusan suku di Indonesia yang menempati suatu daerah pasti  memiliki beberapa aturan tentang pola kehidupan berbeda - beda. Keragaman tersebut salah satunya karena pengaruh kondisi alam serta interaksi horizontal sesama manusia dalam jangka waktu lama. Masyarakat tradisional dikenal berhubungan sangat baik dengan alam dimana mereka tinggal karena mereka sepenuhnya menggantungkan hidup dari pemberian alam. Berkeyakinan sangat kuat bahwa alam memiliki kekuatan sangat besar untuk bisa merubah peradaban dan kelangsungan hidup manusia di muka bumi. Maka tidak heran jika untuk menghormati kekuatan alam, manusia melakukan berbagai upacara tradisi yang masih lekat dengan balutan animisme dan dinamisme. Matahari, bintang, bulan, pohon, laut, gunung dianggap memiliki energi maha dahsyat yang perlu diberi penghormatan berupa sesembahan tertentu. Dibalik kebudayaan unik tersebut, ada banyak nilai kebaikan yang patut kita ambil sebagai pelajaran penting tentang bagaimana manusia bisa hidup berdamai dengan alam. 

Kita cukup mengenal masyarakat suku Tengger melakukan upacara Kasodo di kawah gunung Bromo , di bulan Sura penduduk di pesisir pantai  secara rutin  menggelar sedekah laut, atau acara selametan di tempat – tempat keramat seperti hutan ataupun titik sumber mata air. Kegiatan seperti ini tujuannya tidak lain adalah bagaimana sekelompok masyarakat tersebut memiliki pengetahuan menjaga keseimbangan alam. Tidak seenaknya tanpa perhitungan menggunakan apa yang sudah alam berikan. Kearifan lokal yang ditunjukkan pada kebudayaan ini cukup tegas mengingatkan kepada kita untuk selalu menjaga hutan, gunung, serta laut sebagai  sumber kehidupan rakyat di negeri khatulistiwa ini. Dalam hal menjaga alam juga ditunjukkan oleh masyarakat di desa Rumbio kecamatan Kampar provinsi Riau masih memegang aturan mengenai hutan larangan adat. Tujuannya agar masyarakat sekitar bersama – sama memiliki kepekaan menjaga hutan, dimana ada peraturan tidak boleh menebang pohon sembarangan. Jika diketahui melanggar akan dikenakan denda seperti beras sebanyak seratus kilogram atau diwajibkan membayar uang mencapai enam juta rupiah. Aturan adat mengikat seperti ini dirasa lebih efektif mencegah kebiasaan – kebiasaan oknum tertentu yang memiliki niat merusak alam sekitar. 

Kearifan lokal masyarakat pada jaman dulu juga melebur pada pola sederhana pencegahan dampak bencana alam atau yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan mitigasi bencana. Jauh sebelum alat – alat pendeteksi bencana ditemukan, masyarakat lampau di daerah – daerah pelosok sudah memiliki sistem mitigasi yang baik. Mereka belajar dari kejadian atau peristiwa sebelumnya berdasarkan cerita turun temurun dari ayah, kakek atau sesepuh adat. Salah satunya adalah mengenai konstruksi rumah adat tradisional. Perlu diketahui rumah  Gadang dari Sumatera Barat, rumah Joglo di Jawa atau beberapa rumah adat lain, umumnya memiliki ketahanan yang baik jika terjadi bencana seperti gempa bumi. Kearifan seperti ini tidak didapat dari bangku sekolah, #Kenali BahayanyaKurangiRisikonya seakan sudah menjadi mindset para leluhur sebagai upaya berdamai dengan alam. Fakta bebicara, bencana gempa bumi selalu menimbulkan banyak korban jiwa akibat efek lanjutan karena tertimpa bangunan roboh atau ketidaktahuan masyarakat di daerah pantai mengenai air naik atau tsunami yang cukup berbahaya. 

Perlu diketahui pesisir laut barat Sumatera sampai Jawa, Lombok merupakan zona “Ring of Fire” dengan intensitas kegempaan yang tinggi. Ahli geofisika dari USGS William Yeck melalui ABC News mengatakan sekitar 80 persen peristiwa gempa bumi di dunia terjadi di wilayah cincin api Pasifik ini. Masyarakat  suku Jawa lebih dulu mengenal gempa bumi dengan istilah “Lindhu” menganggap bahwa kejadian gempa bumi tersebut membawa pertanda akan muncul peristiwa besar. Kemudian dihubungkan dengan hitungan ramalan kuno yang akan menyimpulkan pandangan atau perkiraan  tertentu mengenai kejadian masa depan. Memang sampai sekarang ini belum ada alat canggih yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa bumi. Alat yang ada hanya mampu mendeteksi adanya potensi ancaman gempa bumi di suatu daerah. Akan tetapi setidaknya dengan kemajuan teknologi, kita dengan mudah mendapat informasi mengenai potensi kebencanaan di  www.bnpb.go.id milik Badan Nasional Penganggulangan Bencana atau BNPB. 

       Timbulnya suatu bencana akibat kerusakan alam menjadi isu yang perlu dibahas dan dipecahkan bersama untuk menemukan solusi. Pemerintah sendiri dinilai gagal melaksanakan program pengurangan sampah plastik di Indonesia dikarenakan kurang mendapat perhatian serta dukungan dari masyarakatnya. Menempati urutan kedua terbesar sebagai negara penghasil sampah plastik sudah seharusnya menjadikan kita prihatin. Berdasarkan data Jambeck dari University of Georgia, pada setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik. Gaya hidup yang sangat bergantung pada pemakaian plastik semakin memperparah karena masyarakatnya belum memiliki #BudayaSadarBencana. Edukasi berkelanjutan mengenai aksi diet plastik dirasa penting dilakukan dengan kembali kepada kearifan lokal. Dimulai dari diaktifitas sehari - hari yaitu dengan mencoba mengurangi pemakaian plastik. Contoh kecil saja, orang – orang jaman dulu sudah terbiasa ketika berbelanja ke pasar membawa tempat barang belanjaan dari rumah, dan pastinya bukan terbuat dari bahan plastik. Memang terkesan aneh dan jadul karena trend ini belum menjadi budaya generasi milenial kita. Sekarang, ayo mulai berubah menjadi lebih ramah kepada lingkungan, demi alam yang tetap asri terjaga untuk masa depan anak cucu kita. 
#KitaJagaAlam #AlamJagaKita #BudayaSadarBencana #KenaliBahayanyaKurangiResikonya #SiapUntukSelamat #TangguhHadapiBencana  #TangguhAward2019

Senin, 29 Juli 2019

BERDAMAI DENGAN ALAM, MENJADI MASYARAKAT TANGGUH BENCANA

Kedatangan tim ekspedisi DESTANA (Desa Tangguh Bencana) Tsunami di kabupaten Trenggalek menimbulkan tanya bagi sebagian besar warga ditengah kabar yang beredar mengenai isu akan terjadi gempa bumi. Pada Minggu pagi, 21 Juli 2019 rombongan menyusuri  jalan nasional menuju kecamatan Panggul, salah satu kecamatan di Trenggalek yang letaknya berada di pesisir laut selatan Jawa berbatasan langsung dengan samudra Hindia. Sesuai rencana, tim tersebut selanjutnya akan meneruskan misi menuju kabupaten Pacitan sekaligus penutupan segmen daerah Jawa Timur. Sehari sebelumnya tim ekspedisi telah menyelesaikan rangkaian kegiatannya di kecamatan Watulimo, tepatnya di kawasan wisata andalan guo Lowo dan pantai Prigi. Misi kemanusian tim ekspedisi DESTANA diwujudkan dengan memberikan edukasi kepada segenap elemen pemerintah setempat, kelompok  - kelompok masyarakat, siswa sekolah, tujuannya dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi bencana. 

#KenaliBahayanyaKurangiRisikonya, merupakan upaya untuk membangun wawasan masyarakat kita. Jika memiliki pengetahuan cukup tentang bahaya suatu bencana, timbulnya risiko bisa diminimalisir.  Perlu diketahui, pernyataan yang bersumber dari pakar Tsunami Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan bahwa pesisir selatan pulau Jawa sampai  Sumba di sisi sebelah timur sangat berpotensi akan terjadi gempa bumi berkekuatan lebih dari 8 scala richter (SR). Kekuatan gempa tersebut bahkan bisa memicu gelombang tsunami hingga dua puluh meter yang bisa saja menerjang desa – desa di pesisir pantai.

Kegiatan safari yang dilakukan tim ekspedisi DESTANA mengingatkan bahwa, daerah tempat kita hidup saat ini rawan bencana terutama gempa bumi. Jika dilihat secara geografis wilayah Indonesia tepat berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia yaitu lempeng Eurasia, Indoaustralia. Lebih dari dua ratus patahan aktif atau sesar aktif berada di bumi Indonesia antara lain, patahan besar Sumatera, sesar akftif di Jawa, Lembang, Jogjakarta, di utara Bali, Lombok, NTB, NTT, Sumbawa, dan Sorong. Posisi Indonesia juga dikenal berada di Cincin Api Pasifik (Ring Of Fire) yaitu daerah tapal kuda sepanjang 40.000 km mengelilingi cekungan samudra Pasifik dimana daerah ini akan sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Tercatat sekitar sembilan puluh persen dari gempa bumi yang terjadi dan delapan puluh satu persen dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang jalur cincin api.

#BudayaSadarBencana harus dipahami betul oleh seluruh masyarakat, apalagi kabupaten Trenggalek tujuh puluh persen wilayahnya memiliki struktur pegunungan. Bencana tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir kerap kali mengancam daerah dengan sebutan "The Southern Paradise" ini.  Ancaman bencana gempa bumi pun bisa datang kapan saja tanpa bisa diprediksi waktu kejadiannya. Tiga kecamatan yakni Watulimo, Munjungan, dan Panggul yang berada tepat di pesisir pantai selatan Jawa, jelas kemungkinan besar terkena dampak gelombang tsunami. Sosialisasi mitigasi bencana tim Destana merupakan langkah positif dalam memberikan pengetahuan yang cukup tentang kebencanaan kepada masyarakat terutama di desa – desa pesisir. Selanjutya, kegiatan antisipasi bencana seperti ini bisa dilanjutkan secara berkala oleh Badan Penangglangan Bencana Daerah atau BPBD masing – masing kabupaten.

Nusantara telah memberi banyak manfaat terhadap semua makhluk hidup yang tinggal  di atas buminya. Dari Sabang sampai Merauke membentang alam subur, lautan luas dengan produktifitas perikanan, eksplorasi hasil tambang dari perut bumi yang seakan tidak ada habisnya. Namun dibalik itu semua, seluruh wilayah di Indonesia berpotensi terancam berbagai bencana. Menyikapi hal tersebut, perlu dilakukan edukasi kepada generasi milenial agar memiliki kepedulian tinggi pada alam sekitar.  Program pembelajaran di sekolah – sekolah seharusnya bisa memberikan informasi lengkap mengenai alam dengan berbagai potensi bencana. Kepedulian pada kehidupan alam bisa dimulai dengan hal sederhana misalnya dengan cara menggalakkan penanaman pohon mangrove di sekitar pantai, gerakan mengurangi penggunaan plastic,  membangun rumah anti gempa atau membuat jalur – jalur evakuasi bagi warga di lokasi terdampak bencana. Melalui website Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) https://bnpb.go.id/ masyarakat bisa dengan mudah mengakses informasi akurat mitigasi bencana. Upaya kongkrit tersebut sebagai wujud kita belajar berdamai dengan alam, berusaha menjaga kelestariannya dengan aksi terpuji, yakinlah alam akan menjaga kehidupan kita. #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #SalamTangguh #SiapUntukSelamat